Sabtu, 29 Oktober 2016

Menengok Ke Belakang

Aku pikir setelah tersadar, saat sendiri. Aku tidak benar-benar menjalani hidupku. Meski saat aku terjatuh, aku selalu mengulangnya dari awal dan bukan malah meneruskannya. Dan entah mengapa, aku selalu tergiur untuk menoleh ke belakang. Entahlah ada apa disana.

Hingga pencapaian, cita-cita, dan harapan yang selalu ingin aku wujudkan itu benar-benar tak pernah bisa aku dapatkan. Entah sampai kapan??!

Sepertinya menengok ke belakang itu hal yang menarik. Dimana di sana aku pernah merasakan kebahagiaan yang sempurna dan luka yang sempurna. Yang tidak aku dapatkan sekarang.

Tak ada lagi kebahagiaan yang sempurna yang aku dapatkan sekarang. Karena tak ada cinta. Dan tak ada luka yang sempurna sekarang, karena aku tak merasakan lagi terluka oleh cinta.

Aku pikir, aku hanya perlu bersyukur. Mau menoleh atau tidak ke belakang. Aku tetap harus melewati hari ini hingga sampai pada hari esok.

Masa depan itu rahasia Illahi. Aku cukup berbaik sangka, berdo'a, berusaha, dan selebihnya, hasil mutlak ketentuan dan keputusan Ilahi untuk menjadi pilihan terbaik untuk aku terima.

Allah lebih tahu apa yang aku butuhkan. Dan tentu saja, dari semenjak aku dalam kandungan, Allah sudah memberi aku porsi rezeki yang aku terima hingga aku kembali ke pangkuan-Nya. Pasrah saja....

Selasa, 24 Mei 2016

Membuka untuk Menutup

Hai...

Seperti'a sudah lama sekali aku tidak mengintip blogku. Memang sih tak ada yang menarik untuk dilihat. Tak ada yang bermanfaat. Isi'a hanya tulisan" panjang tentang celoteh"ku dikala mata tak bisa juga terpejam. Ini hanya sebuah pelarianku di kala penat. Jadi blogku tak seperti blog" lain pada umum'a. Ini hanya untuk konsumsi diri sendiri. Bukan untuk publik.

Saat ini jam diponselku menunjukkan pukul 04:00. Dan sempurna, mataku tak kunjung juga menutup. Untuk sejenak melepas lelah. Ah, besok pasti bangun kesiangan. Padahal jagoan harus bangun pagi" dan masih ulangan kenaikan kelas. Bagaimana kalau terlambat lagi, seperti kegaduhan tadi pagi??!!

Seperti'a dengan melihat tulisan" kecil ini mataku melemah, lelah, dan mengantuk!!! Hhahaha, tidur aaah...sebentar lagi harus bangun dan bergegas sholat subuh. Semoga cukup istirahat'a. Ok see you....

Welcome wednesday...

Senin, 29 Februari 2016

Gerimis Pagi, Lagi

Ini kali kesekian gerimis menangis di pagi buta. Menjadi alasan yang logis saat semua anggota tubuh kembali menarik diri dan bersembunyi dibalik kehangatan selimut.

Lalu seperti salju menderu, hujan turun mengukir genangan. Meninggalkan jejak disetiap tempat yang dilaluinya. Perlahan titik demi titik tetesan itu menjadi sebuah genangan air.

Menghanyutkan apa saja yang berada didekatnya. Menghapus semua jejak-jejak lama dan meninggalkan jejak-jejak baru. Entah itu menjadi buruk atau sebaliknya, menjadi indah.

Hanya rasa syukur, bahwa Kebesaran Tuhan tak terhenti karena sebuah genangan yang mengalir deras. Tidak berakhir oleh hujan bertemankan petir dan angin. Kekuasan-Nya akan terus berlanjut hingga semua makhluk di planet bernama bumi sadar akan Kekuatan-Nya.

Ucap syukurku untuk semua nikmat dan rizki hingga pagi hari ini. Semoga tetap berlimpah dan berkah....

Welcome March_


"Rindu Pulang"

Titik nadir ini telah sampai pada masanya.Pesawatnya merindu ruang gerak tanpa terkekang. Mengharap helaan panjang hingga raganya siap untuk kembali terbang. Adalah kini, terduduk layu, mengharap luang....

Titik nadir itu telah kembali. Pada hasrat yang terbagi. Merindu pagi dengan senyuman yang berseri. Letih membayangi hari. Mengikuti langkah menutupi hati. Hingga antara logika dan perasaan kini hanya tinggal sejengkal jari...

Merindu pulang...pada fitrah manusia. Mengubur semua kepenatan kata, merangkum semua nikmat dalam balutan rasa, saat lelah menjadi berkah, saat indah mengucap Alhamdulillah...

Tak kutemukan lagi tangan untuk mendekap segala keluh. Hanya hamparan sajadah lusuh membisu. Menatap haru menunggu ragu. Pasrah dalam ribuan rindu, hingga deraiannya mulai membelenggu...

Aku rindu pulang. Bukan pada apapun yang menjadi sebuah tempat. Bukan pada apa yang menjadi rumah. Tapi rindu pulang pada semua dekapan hangat kalian yang masih terjaga. Aku rindu pulang pada fitrahku sebagai manusia. Pada perhatian semua makhluk yang begitu peduli padaku. Aku rindu menjadi manusia, rindu pada semua titik kemanusiaannya.....

Aku rindu pulang......

Jumat, 26 Februari 2016

Fokus

Udah lama banget gak berceloteh disini. Lagi meminimalisir setiap kejadian yang bisa meruntuhkan hatiku. Nggak mau lagi, capek. Seperti yang anak gadis ucapkan barusan yang lewat dihadapanku sambil menarik-narik tangan ibunya.
"Capek bu....capek...pengen pulang..."
Dengan raut muka yang memelas dan kelelahan. Sepertinya mereka habis berkeliling di Mall ini untuk berbelanja. Dilihat dari paperbag dan shopping bag yang mereka bawa dan tenteng ditangan mereka.

Mungkin perasaanku seperti anak gadis itu. Terlalu lelah. Lelah untuk semua perjalanan hidup yang dilaluinya. Hingga tidak perduli lagi untuk apa hidupnya selain memperbaiki diri untuk akhirnya bisa singgah dan menetap di jannah-Nya.

Tak perlu lagi memikirkan akan seperti apa aku esok bila tanpa ada yang mendampingiku. Itu sudah bukan prioritas utama lagi dalam hidupku. Semua yang datang akan pergi. Dan hanya akan menyisakan sebuah kenangan yang tak akan pernah terhapus dari ingatan kecuali kita berharap untuk amnesia saja.

Aku lebih fokus pada bagaimana aku bisa menghidupi anakku. Mengajarkannya berbagai kebaikan dalam hidup yang berdasar pada Qur'an dan Hadits. Tak perlu pusing bagaimana pendidikannya kelak. Karena yang aku ajarkan sekarang adalah bagaimana aku mengajarkannya cara memberikan dia makan dengan jalan yang halal. Mengajarkan dia bagaimana menyuapinya dengan makanan seadanya, agar kelak saat aku tua, dia mengerti bagaimana menyuapi aku orangtua tunggalnya yang renta dan sakit-sakitan dengan rezeki yang halal pula. Mengajarkan padanya bagaimana berbakti pada orangtua dan berbuat baik pada orang lain.

Hatinya sekarang cukup buat Allah saja. Semoga diberikan keistiqamahan dan tidak diputarbalikkan lagi pada keadaan yang dapat membuatku melupakan-Nya. Insha Allahu....aamiin

Senin, 21 Desember 2015

Selamat Hari Ibu, Emak

Hari ini memang hari ibu. Hari dimana perjuangan seorang ibu mendapatkan sebuah penghargaan atau sekedar ucapan-ucapan selamat dari anak-anaknya. Banyak dari mereka memberikan penghargaan itu dengan berbagai cara. Dan bagiku, hari ini berlalu begitu saja.

Tak ada ucapan apapun, untukku dari siapa?? Anakku belum terlalu mengerti dengan sebuah ucapan. Dia hanya mengerti jajan dan belajar. Nakal dan mengaji. Apalagi???! Lalu aku, siapa yang harus aku beri ucapan selamat hari ibu ini???! Ibu sudah berlalu pergi. Terlelap dalam tidur panjangnya. Menungguku menyusul dan kembali berkumpul disana. Jadi untuk siapa???!

Menjadi seorang ibupun aku tak becus!!? Terlalu gengsi untuk memberikan pelukan dan senyuman manja pada jagoanku. Hatiku terlalu keras untuk melakukannya. Sial, bahkan aku tak pernah merasa menjadi seorang ibu. Belum mungkin!!?

Saat dimana bisa mengidam, mengandung, merasakan detak jantungnya di dalam perutku, dan tentu saja melahirkan, menyusui dan membesarkannya. Dan dimulailah perjuangan seorang ibu yang sesungguhnya. 

Saat ego, amarah, dan tangis mewarnai perjuangan ibu. Ketika sang anak mulai membentuk dirinya sendiri tanpa campur tangan sang ibu. Beranjak dewasa, membawanya pergi dengan tujuan hidup yang dibentuknya sendiri. Mencari jati diri dan prinsip hidupnya.

Lalu semua kebahagiaan dimasa kecil itu mulai pudar. Sang anak mulai sibuk dengan rutinitasnya. Mulai tak perduli untuk memberikan kabar kepada ibunya lagi. Karena posisi itu mulai tergantikan oleh orang lain yang lebih penting untuk masa depannya. Dan seorang ibu hanya bisa menggapai dan memeluknya dengan do'a-do'a untuk sang anak.

Dam dalam posisiku sebagai seorang anak yang telah kehilangan seorang ibu. Berharap pertemuan kembali terjadi. Untuk mengubah salah dan khilaf di masa lalu. Mencoba terus kuat dan tabah tanpa kehadirannya lagi. Hanya do'a yang memeluk semua kerinduanku...

Selamat hari ibu, emak
Aku yakin disana kau tenang dan bahagia bersama bapa
Merangkai lagi masa-masa indah yang sempat terputus karena bapa telah lebih dulu pergi. Dan sekarang emak dan bapa telah bersatu lagi. Berjalan-jalan berdua lagi seperti yang selalu kalian lakukan dulu. Selamat hari ibu, Emak.....banyak petuahmu yang tak akan pernah aku abaikan. Tentang sebuah arti kesetiaan dan kesabaran.

Alfatihah untuk emak, I LOVE U Emak

Rose_


www.celotehrose.com

Cita-Citaku Adalah KAMU

Aku selalu ingin menjadi penulis. Menulis semua tentangmu
Tentang keindahan pesonamu, suaramu, dan jiwamu
Aku selalu ingin menjadi pelukis. Melukis semua tentangmu
Tentang keindahan ragamu, akhlakmu, dan pribadimu
Aku selalu ingin menjadi penyair. Mencurahkan segala tentangmu
Tentang keindahan gerak gerikmu, diammu, dan kemisteriusanmu
Aku selalu ingin menjadi arsitek. Membangun sebuah museum tentangmu
Tentang jejak-jejak langkahmu, perjuangan hidupmu, dan kenangan-kenangan masa lalu mu 
Aku selalu ingin menjadi ratu di istanamu, melayanimu hingga tak kenal waktu, patuh dan taat mengabdi padamu
Aku selalu ingin menjadi istri, dan suami'a adalah kamu

Tapi bila itu semua hanya menjadi inginku, dan tak pernah bisaterwujud....semoga di hatiku, KAMU ADALAH CITA-CITAKU

Bandung, 21 Desember 2015
Rose_ ^_^

Sabtu, 12 Desember 2015

Sejenak Terdiam

Hening itu indah saat merindu
Ketika toreh luka tersiram empedu
Sesaat menyayat menggelora kalbu

Hening itu duka saat merindu
Ketika hilang dan meragu
Sesaat merajuk merayu syahdu

Coba berpindah singgasana
Kau disini aku disana
Mencoba meraja jiwa
Lantas kau rasa sesak'a mendamba

Wahai terkasih janganlah lagi
Kau sejenak berdiam diri
Membiarkan sang bunga gugur ke bumi
Meski itu sedetik yang tak berarti

Karena merindu sangatlah sulit
Saat ingin bertahan pada satu pilihan yang pelik

Janganlah lagi wahai terkasih
Sapa mu tetap menjadi penyegar sang bidadari
Meski itu hanya sekali

Sejenak terdiam itu menyesakkan
Jadi, jangan diamkan aku, lagi......

Senin, 23 November 2015

Rindu Memang Tak Pernah Salah

Rindu Memang Tak Pernah Salah

Entah kapan gemericik ini merindu Kuasa-Nya
Bahkan sepertinya mengharap saja menjadi hal yang mustahil
Mendamba, mendekati-Nya lebih dekat
Bersama jutaan tangan yang menengadah mengharap duli dan ridlo-Nya

Entah apa yang harus aku lakukan saat panggilan-Mu tak terelakkan
Sanggupkah raga penuh nista ini menghadap-Mu
Tak malukah diri, begitu penuh butuhku diberikan-Nya
Begitu sarat do'aku diijabah-Nya
Tanpa ku harus lagi meminta!!!

Oh Rabb, begitu besarkah duli-Mu padaku
Hingga rindu yang selalu ku semai dalam hati mulai tumbuh
Seakan terus bersemi hingga berbunga dan tak lama lagi akan ku panen buah manisnya

Oh Rabb, sanggupkah aku menanggung maluku
Begitu banyak hak-hak-Mu yang tak pernah aku tunaikan
Tak Kau pertimbangkankah semua itu??!
Begitu Indah nian Kuasa-Mu Rabb
Hingga aku selalu yakin bahwa
Rindu memang tak pernah salah
Rinduku di Ka'bah_Mu....

Sabtu, 14 November 2015

Pertemuan

Benarkan, dunia itu bulat??!

Baru saja aku mengatakan'a kemarin sore. Dan sekarang aku sudah berada di titik dimana pertemuan terjadi setelah berhari bahkan berminggu terpisah. Satu tatap lagi....satu meja lagi....menghabiskan makanan yang kami pesan sebelum'a. Setelah cerita sempat terhenti karena hal bernama keegoan terlalu kuat berada diantara aku dan teman dekat'a. Ya, akan selalu ada pertemuan dari perpisahan yang tak sengaja. Mengajarkan kita untuk lebih dewasa dan bijak menghadapi masalah.

Rabu, 11 November 2015