Ini kali kesekian gerimis menangis di pagi buta. Menjadi alasan yang logis saat semua anggota tubuh kembali menarik diri dan bersembunyi dibalik kehangatan selimut.
Lalu seperti salju menderu, hujan turun mengukir genangan. Meninggalkan jejak disetiap tempat yang dilaluinya. Perlahan titik demi titik tetesan itu menjadi sebuah genangan air.
Menghanyutkan apa saja yang berada didekatnya. Menghapus semua jejak-jejak lama dan meninggalkan jejak-jejak baru. Entah itu menjadi buruk atau sebaliknya, menjadi indah.
Hanya rasa syukur, bahwa Kebesaran Tuhan tak terhenti karena sebuah genangan yang mengalir deras. Tidak berakhir oleh hujan bertemankan petir dan angin. Kekuasan-Nya akan terus berlanjut hingga semua makhluk di planet bernama bumi sadar akan Kekuatan-Nya.
Ucap syukurku untuk semua nikmat dan rizki hingga pagi hari ini. Semoga tetap berlimpah dan berkah....
Welcome March_
Senin, 29 Februari 2016
"Rindu Pulang"
Titik nadir ini telah sampai pada masanya.Pesawatnya merindu ruang gerak tanpa terkekang. Mengharap helaan panjang hingga raganya siap untuk kembali terbang. Adalah kini, terduduk layu, mengharap luang....
Titik nadir itu telah kembali. Pada hasrat yang terbagi. Merindu pagi dengan senyuman yang berseri. Letih membayangi hari. Mengikuti langkah menutupi hati. Hingga antara logika dan perasaan kini hanya tinggal sejengkal jari...
Merindu pulang...pada fitrah manusia. Mengubur semua kepenatan kata, merangkum semua nikmat dalam balutan rasa, saat lelah menjadi berkah, saat indah mengucap Alhamdulillah...
Tak kutemukan lagi tangan untuk mendekap segala keluh. Hanya hamparan sajadah lusuh membisu. Menatap haru menunggu ragu. Pasrah dalam ribuan rindu, hingga deraiannya mulai membelenggu...
Aku rindu pulang. Bukan pada apapun yang menjadi sebuah tempat. Bukan pada apa yang menjadi rumah. Tapi rindu pulang pada semua dekapan hangat kalian yang masih terjaga. Aku rindu pulang pada fitrahku sebagai manusia. Pada perhatian semua makhluk yang begitu peduli padaku. Aku rindu menjadi manusia, rindu pada semua titik kemanusiaannya.....
Aku rindu pulang......
Titik nadir itu telah kembali. Pada hasrat yang terbagi. Merindu pagi dengan senyuman yang berseri. Letih membayangi hari. Mengikuti langkah menutupi hati. Hingga antara logika dan perasaan kini hanya tinggal sejengkal jari...
Merindu pulang...pada fitrah manusia. Mengubur semua kepenatan kata, merangkum semua nikmat dalam balutan rasa, saat lelah menjadi berkah, saat indah mengucap Alhamdulillah...
Tak kutemukan lagi tangan untuk mendekap segala keluh. Hanya hamparan sajadah lusuh membisu. Menatap haru menunggu ragu. Pasrah dalam ribuan rindu, hingga deraiannya mulai membelenggu...
Aku rindu pulang. Bukan pada apapun yang menjadi sebuah tempat. Bukan pada apa yang menjadi rumah. Tapi rindu pulang pada semua dekapan hangat kalian yang masih terjaga. Aku rindu pulang pada fitrahku sebagai manusia. Pada perhatian semua makhluk yang begitu peduli padaku. Aku rindu menjadi manusia, rindu pada semua titik kemanusiaannya.....
Aku rindu pulang......
Jumat, 26 Februari 2016
Fokus
Udah lama banget gak berceloteh disini. Lagi meminimalisir setiap kejadian yang bisa meruntuhkan hatiku. Nggak mau lagi, capek. Seperti yang anak gadis ucapkan barusan yang lewat dihadapanku sambil menarik-narik tangan ibunya.
"Capek bu....capek...pengen pulang..."
Dengan raut muka yang memelas dan kelelahan. Sepertinya mereka habis berkeliling di Mall ini untuk berbelanja. Dilihat dari paperbag dan shopping bag yang mereka bawa dan tenteng ditangan mereka.
Mungkin perasaanku seperti anak gadis itu. Terlalu lelah. Lelah untuk semua perjalanan hidup yang dilaluinya. Hingga tidak perduli lagi untuk apa hidupnya selain memperbaiki diri untuk akhirnya bisa singgah dan menetap di jannah-Nya.
Tak perlu lagi memikirkan akan seperti apa aku esok bila tanpa ada yang mendampingiku. Itu sudah bukan prioritas utama lagi dalam hidupku. Semua yang datang akan pergi. Dan hanya akan menyisakan sebuah kenangan yang tak akan pernah terhapus dari ingatan kecuali kita berharap untuk amnesia saja.
Aku lebih fokus pada bagaimana aku bisa menghidupi anakku. Mengajarkannya berbagai kebaikan dalam hidup yang berdasar pada Qur'an dan Hadits. Tak perlu pusing bagaimana pendidikannya kelak. Karena yang aku ajarkan sekarang adalah bagaimana aku mengajarkannya cara memberikan dia makan dengan jalan yang halal. Mengajarkan dia bagaimana menyuapinya dengan makanan seadanya, agar kelak saat aku tua, dia mengerti bagaimana menyuapi aku orangtua tunggalnya yang renta dan sakit-sakitan dengan rezeki yang halal pula. Mengajarkan padanya bagaimana berbakti pada orangtua dan berbuat baik pada orang lain.
Hatinya sekarang cukup buat Allah saja. Semoga diberikan keistiqamahan dan tidak diputarbalikkan lagi pada keadaan yang dapat membuatku melupakan-Nya. Insha Allahu....aamiin
"Capek bu....capek...pengen pulang..."
Dengan raut muka yang memelas dan kelelahan. Sepertinya mereka habis berkeliling di Mall ini untuk berbelanja. Dilihat dari paperbag dan shopping bag yang mereka bawa dan tenteng ditangan mereka.
Mungkin perasaanku seperti anak gadis itu. Terlalu lelah. Lelah untuk semua perjalanan hidup yang dilaluinya. Hingga tidak perduli lagi untuk apa hidupnya selain memperbaiki diri untuk akhirnya bisa singgah dan menetap di jannah-Nya.
Tak perlu lagi memikirkan akan seperti apa aku esok bila tanpa ada yang mendampingiku. Itu sudah bukan prioritas utama lagi dalam hidupku. Semua yang datang akan pergi. Dan hanya akan menyisakan sebuah kenangan yang tak akan pernah terhapus dari ingatan kecuali kita berharap untuk amnesia saja.
Aku lebih fokus pada bagaimana aku bisa menghidupi anakku. Mengajarkannya berbagai kebaikan dalam hidup yang berdasar pada Qur'an dan Hadits. Tak perlu pusing bagaimana pendidikannya kelak. Karena yang aku ajarkan sekarang adalah bagaimana aku mengajarkannya cara memberikan dia makan dengan jalan yang halal. Mengajarkan dia bagaimana menyuapinya dengan makanan seadanya, agar kelak saat aku tua, dia mengerti bagaimana menyuapi aku orangtua tunggalnya yang renta dan sakit-sakitan dengan rezeki yang halal pula. Mengajarkan padanya bagaimana berbakti pada orangtua dan berbuat baik pada orang lain.
Hatinya sekarang cukup buat Allah saja. Semoga diberikan keistiqamahan dan tidak diputarbalikkan lagi pada keadaan yang dapat membuatku melupakan-Nya. Insha Allahu....aamiin
Langganan:
Postingan (Atom)